Indeks Glikemik Pada Diabetes (1)

Iklan Semua Halaman

Indeks Glikemik Pada Diabetes (1)

Sabtu, 28 Juli 2018

Pada tahun 90-an, diet diabetes selalu berkutat pada seberapa banyak makanan yang harus dimakan. Hanya kuantitas karbohidrat yang diperhitungkan. Buku-buku tentang diet pun hampir semuanya membahas mengenai makanan ini dan itu harus sekian gram. Kini diet diabetes lebih bebas, asal Anda mengenal bagaimana kualitas karbohidrat. Setelah tahu berapa jumlah kandungan karbohidrat di dalam makanan, selanjutnya Anda perlu memperkirakan berapa Indeks Glikemiknya.

Indeks Glikemik atau Glycemic Index (GI) adalah angka yang menunjukkan potensi peningkatan gula darah dari karbohidrat yang tersedia pada suatu pangan atau secara sederhana dapat dikatakan sebagai tingkatan atau rangking pangan menurut efeknya terhadap kadar glukosa darah.

Indeks Glikemik mulai diteliti di Universitas Toronto, kemudian dikembangkan terus di pusat-pusat penelitian manca negara. Tahun 1997 WHO merekomendasikan pemakaian Indeks Glikemik sebagai cara pengaturan diet diabetes yang paling baik. Selanjutnya para peneliti di Universitas Harvard menggabungkan jumlah karbohidrat dan kualitasnya (Indeks Glikemik) ke dalam konsep Beban Glikemik atau Glycemic Load (GL).

Awal abad 21 American Diabetes Association memperkenalkan Medical Nutrition Therapy yang kini semakin luas dipakai, yaitu diet diabetes yang membolehkan makan banyak karbohidrat, asalkan Indeks Glikemik-nya rendah. Diet dengan cara menghitung Indeks Glikemik membuat gula darah lebih mudah dikendalikan. Jika HbA1c diabetes turun sebanyak 0,5% maka kemungkinan komplikasi diabetes juga berkurang 10-20%.

Makanan dari zat pati seperti nasi dan roti mempunyai GI tinggi lantaran mudah diserap. Makanan yang banyak serat dan lemak jenuhnya rendah umumnya ber-GI rendah. Ingatlah, makanan ber-GI tinggi tidak selalu berdampak buruk pada kesehatan, atau jika GI-nya rendah boleh dikonsumsi banyak. Tidak, bukan seperti itu pengertiannya.

  1. Semakin lama dimasak atau proses penyajiannya lama akan membuat banyak serat terbuang sehingga membuat GI makanan tersebut menjadi tinggi. 
  2. Makanan yang dimakan dengan cepat atau ditelan tanpa dikunyah akan membuat GI-nya menjadi tinggi. 
  3. Jika serat makanannya sukar dicerna, GI akan rendah. 
  4. Adanya lemak tambahan membuat penyerapan karbohidrat menjadi lebih lambat, GI akan turun. Contohnya: GI kentang goreng lebih rendah daripada kentang bakar yang dimakan dengan kulitnya. NAMUN, kentang goreng tidak sehat karena banyak mengandung minyak trans yang membuat orang gemuk. 
  5. Buah atau sayuran yang dikupas membuat GI tinggi. 
  6. Karbohidrat yang dicampur dengan makanan lain membuat GI turun. Misalnya nasi soto atau nasi rawon membuat GI makanan campuran menjadi turun. Namun, daging merah menambah beban kalori, dan lemak tak jenuhnya juga banyak. 
  7. Makanan yang diberi saus yang asam atau jeruk menurunkan GI. Akan tetapi makanan pedas atau asam dapat meningkatkan asam lambung.
Indeks Glikemik hanya berlaku untuk perhitungan karbohidrat yang akan menjadi gula. Makanan protein dan lemak bukan karbohidrat, tidak mempunyai GI, tetapi bisa memengaruhi nilai GI makanan karbohidrat.